Label

Sabtu, 24 Maret 2012

BELAJAR DARI SANG PEMBERANI Kado Untuk Para Pemimpin

BELAJAR DARI SANG PEMBERANI
Kado Untuk Para Pemimpin


Oleh: Muhsin Hariyanto

Asiyah (isteri Firaun) dan Masyitah (pelayan Firaun), kedua-duanya harus menebus keimanan mereka kepada Allah dengan nyawa mereka. Asiyah – menebusnya -- di tiang penyiksaannya dan Masyitah – menebusnya -- di kuali panas mendidih beserta seluruh keluarganya karena mereka berdua tak sudi menuhankan Firaun. Itulah harga yang harus mereka bayar dari syajâ'ah (keberanian) mereka. Keberanian untuk menegakkan kalimah tauhid di saat kematian menghadang.

Asiyah (isteri Firaun) dan Masyitah (pelayan Firaun) tidak hanya berdua. Mereka ditemani oleh sosok-sosok tegar yang – dengan lantang – berani menyuarakan dan menyatakan kebenaran dalam tindakan. Mereka – antara lain – Ibrahim a.s., Musa a.s. dan, tentu saja, Muhammad s.a.w., uswah hasanah kita.

Secara manusiawi seseorang memang memiliki sifat khauf (takut). Namun sifat khauf thabi’i (natural/alamiah) di dalam setiap diri manusia sengaja diciptakan oleh Allah -- bagi mereka -- sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri.

Kita bolejh saja takut terbakar api, tenggelam di kedalam air, terjatuh dalam terkaman binatang buas. Tetapi, semuanya harus berada di bawah control khauf syar’i, yakni "takut" kepada Allah SWT. Rasa takut itulah yang secara indah dan heroik diperlihatkan dalam sejarah kehidupan Ibrahim a.s, Musa dan Muhammad s.a.w. (Sang Idola Kita!).

Keteladan Ibrahim a.s. terlihat pada peristiwa pembakarannya oleh tentara Namrud. Rasa takut (khauf) thabi’i terhadap api dan terbakar olehnya teratasi oleh rasa takut (khauf) syar’i, yakni takut kepada Allah saja. Dan -- pada saat yang tepat -- pertolongan Allah datang dengan perintah-Nya kepada 'sang api' agar menjadi dingin, menyejukkan serta menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s.

Keteladanan Musa a.s. ditunjukkan dalam kisah heroiknya ketika menghadapi Sang Tiran (Firaun) dan bala tentaranya. Rasa takut pada kemungkinan tenggelam ke laut merah teratasi oleh ketenangan, optimisme dan keberaniannya, dan karena keyakinannya terhadap pertolongan Allah yang akan kepadanya. Dan benar saja Allah memberinya jalan keluar berupa mukjizat berupa terbelahnya laut merah dengan pukulan tongkatnya sehingga bisa dilalui oleh Nabi Musa a.s. dan para pengikutnya. Kemudian laut itu menyatu kembali dan menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya.

Keteladanan Muhammad s.a.w. dipertontonkan kepada kita – umatnya – di ketika menghadapi kejaran para pembangkang ajaran Allah. Keberanian, ketawakalan dan kepasrahan kepada Allah yang membuahkan pertolongan-Nya terlihat pada saat beliau bersama sahabat setianya -- Abu Bakar Ash-Shiddiq -- berada di gua Tsur untuk bersembunyi sebagai bagian dari rencana besar (strategi) hijrahnya ke Yatsrib (Madinah). Di saat kaki-kaki musuh yang lalu lalang di seputar goa itu siap menuju mulut goa, semuanya tidak menggetarkannya. Dan ketika Abu Bakar begitu mengkhawatirkan keselamatannya, beliau menenangkannya dengan berkata, “Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS at-Taubah [9]: 40). Dan ternyata, "terbukti" Allah SWT memberikan pertolongan melalui makhluk-makhluk-Nya yang lain. Burung merpati yang secara kilat membuat sarang, begitu pula laba-laba di mulut goa, membuat kaum musyrikin Quraisy yang mengejarnya "yakin" bahwa goa itu tak mungkin dilalui oleh manusia. Mereka berlalu, dan selamatlah Muhammad s.a.w. bersama sabahat tercintanya, Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Ketiga kisah itu melengkapi kisah heroik Asiyah dan Masyitah. Kalau Asiyah dan Masyitah, masing-masing ditakdirkan oleh Allah menjadi syahîdataian (dua wanita yang mati syahid), karena membela kebnenaran. Ketiga orang Nabi dan Rasul Allah itu diselamatkan oleh Allah, karena Allah memiliki rencana yang berbeda bagi mereka masing-masing.

Ada pelajaran bagi bagi kita dari kisah-kisah itu. Namun, yang sering terjadi, tidak banyak orang yang bisa menangkap sinyal-sinyal terang dari Allah dari kisah-kisah serupa, karena hati mereka masih terliput godaan setan dan arahan hawa nafsu.

Keberanian, sebagaimana yang dimiliki oleh Asiyah dan Masyitah, yang terntu saja pasti dimiliki oleh Ibrahim a.s., Musa a.s. dan – tentu saja – Muhammad s.a.w. tidak banyak terwarisi oleh umat Islam. Hingga mereka menikmati sikap pengecut, takut untuk berkata benar, apalagi memperjuangkan kebenaran.

Nabi s.a.w memprediksikan di suatu masa umat Islam akan menjadi bulan-bulanan dan santapan empuk musuh-musuh Islam karena sudah mengidap penyakit wahn, yakni cinta dunia dan takut mati. Penyakit itulah yang menyebabkan umat Islam menjadi "para pengecut", sehingga tidak lagi disegani oleh musuh-musuhnya. Mereka dipandang sebelah mata.

Di zaman keemasan Islam, musuh-musuh mersa gentar terhadap umat Islam karena keberanian para mujahidnya yang hadir ke medan perang dengan suka cita karena hanya memiliki dua pilihan sama-sama baik, yakni: hidup mulia dengan meraih kemenangan atau mati syahid di jalan Allah.

Kini, karena terpenjara oleh al-wahn, mereka menjadi pengecut, tidak memiliki daya tahan tinggi terhadap segala tantangan dan kesulitan sehingga mudah surut, menyerah atau berputus-asa. Padahal dalam kehidupan yang semakin berat dan sulit dewasa ini begitu banyak tantangan dan marabahaya yang harus disikapi dan dihadapi dengan asy-syajâ'ah (keberanian), karena al-wahn, tidak akan pernah menjadi bagian dari solusi bagi permasalahan umat Islam.

Saat ini adalah waktu yang tepat bagi umat Islam untuk berbenah diri. Tinggalkan al-wahn, dan segera miliki asy-syajâ’ah.
Dengan modal spiritual berupa keimanan dan ketakwaan yang mantap. Seharusnya seseorang tidak takut pada apapun dan siapa pun selain Allah. Saatnya kita bermujâhadah melawan segala rasa takut, cemas dan khawatir terhadap setiakp risiko perjuangan untuk menegakkan kebenaran. Dan, tinggalkan keluh-kesah atas beratnya beban perjuangan. Yakinkan pada diri kita bahwa perjuangan para Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu jauh lebih berat daripada beban kita, tetapi mereka tetap memiliki "keberanian" untuk berjihad di jalan Allah.

Apalagi ketika kita menjadi pemimpin umat. Perjuangan kita memerlukan "keberanian ekstra", agar umat pun memiliki keberanian untuk menyatakan yang benar adalah benar, dan memperjuangkannya menjadi sebuah kenyataan. Kita, seharusnya menjadi yang pertama dan utama. Uswah Hasanah bagi umat kita di ranah mana pun kita berada.

Semoga Allah meridhai apa pun yang kita lakukan.!

Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta.

Senin, 20 Februari 2012

cublak cublak suweng……


cublak cublak suweng……
 Kata “cublak” adalah sebuah kata kebiasan atau idium yang digunakan untuk sebuah permainan saling tebak, sedang kata suweng artinya adalah hiasan telinga (bukan anting anting atau giwang) (ayo lah) bermain tebak tebakan (sebuah) informasi yang sangat penting”

Suwenge tinggelenter………..
Seperti diatas suweng artinya adalah sebuah informasi yang penting, tinggelenter artinya adalah banyak tersebar berserakan… jadi kalo digabungkan kedua kata tersebut ditemukan arti : “informasi penting (ini) (sebenarnya) tersebar disegala tempat.”

mambu ketundung gudhel……….
Mambu artinya adala tercium atau terdeteksi, ketundung artinya adalah diusir/dihilangkan, gudhel artinya adalah anak kerbau, tetapi dirasa kata “gudhel” adalah sebuah kata kata idium yang mengartikan orang bodhoh atau orang yang sok tau akan tetapi tidak tau…. Kenapa koq artinya begitu….. gudhel adalah anak kerbau, kerbau adalah hewan yang sangat bermanfaat khususnya masyarakat pertanian, disamping manfaat daging dan tenaganya biasanya juga dimanfaatkan. akan tetapi “gudhel” memang benar adalah anak kerbau (hewan yang sangat bermanfaat) akan tetapi ketika masih “gudhel” (ketika kerbau masih kecil) kerbau kecil tersebut taunya cuman makan dan bermain (masih belum bisa dimanfaatkan… tenaganya masih kecil, dagingnya masih sedikit). Jadi arti kata “mambu ketundung gudhel” adalah sesuatu yang tidak bermanfaat

Pak empong lera lere……… Pak empong adalah idium kata dari dewasa/kedewasaan… sebab artinya empong adalah ompong untuk penyebutan prang yang sudah berumur,…….. sedang disebut pak adalah artinya tua yang memiliki arti juga sudah menjadi dewasa …. Jadi kata “pak empong” adalah merujuk pada kata “orang yang dewasa dikarenakan mempunyai banyak pengalaman” kemudian lera lere artiya adalah menoleh kanan kiri atau memilih-milih. Jadi kata “pak empong lera lere” adalah "orang dewasa yang sudah banyak pengalaman (mencari dengan) memilah dan memilih (secara cermat)".

sopo ngunyu ndelek ake….. artinya… “siapa yang tertawa (pasti) menyembunyikan”, memiliki persamaan arti sama seperti “siapa yang tertawa/menertawakan pasti mengetahui (kebohongan) yang ada” atau kalo lebih dipermudah kalo dibaca akan ketemu kata seperti ini “siapa yang (mengetahui pasti akan)(ketika) mengetahui (kebohongan) yang ada”

sir, sirpong dele kopong…
kalo kata “sir pong dele kopong” kurang lebih artinya emmm … pong adalah sesuatu hal seperti bola yang kosong di dalam nya, sedang dele (kedelai) kopong adalah kedelai yang mengambang diatas air…..kalau tidak salah, artinya menjadi seperti ini…. “(sesuatu) yang dianggap besar tersebut sebenarnya tidak ada isinya” atau memiliki persamaan arti dengan ini (biar nyambung sama kalimat kalimat terdahulunya, sebab ini adalah rangkaian sebuah tembang) “informasi yang dianggap benar sekarang ini, sebenarnya adalah kebohongan”

Sehingga kalo digabungkan semua katanya dan disusun sesuai susunan “tembang Cublak Cublak suweng” membentuk kalimat seperti ini :

“(ayo lah) bermain tebak tebakan (sebuah) informasi yang sangat penting.”
“(sebenarnya) informasi penting (ini) (sudah) tersebar disegala tempat.”
“(tetapi ketahuilah) kalo ketahuan (informasi penting ini) bakalan diusir/dihilangkan/dirusak oleh orang orang yang tidak mengerti (bodoh)”
“orang dewasa yang sudah banyak pengalaman/”ilmu” (mencari dengan) memilah milih (secara cermat)”.
“siapa yang (mengetahui pasti akan) tertawa/menertawakan (ketika) mengetahui (kebohongan)
“informasi yang dianggap benar (secara umum) sekarang ini sebenarnya adalah kebohongan”
“informasi yang dianggap benar (secara umum) sekarang ini sebenarnya adalah kebohongan”
“siapa yang (mengetahui pasti akan) tertawa/menertawakan (ketika) mengetahui (kebohongan)


diedit dari :

Rabu, 08 Februari 2012

Menjaga Kebersihan Karpet - Sajadah

Karpet – Sajadah
Menurut Wikipedia, Permadani atau ambal atau karpet adalah tekstil penutup lantai, terdiri dari lapisan atas "berbulu" yang melekat pada alasnya. Tumpukan permadani umumnya terbuat dari wol atau serat buatan manusia seperti polypropylene, dan biasanya terdiri dari lilitan-lilitan jumbai yang acapkali dipanaskan untuk mempertahankan struktur jalinan karpet.
Istilah "karpet" sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Italia kuno carpita, "carpire" yang berarti membului. Kata karpet biasanya dipakai juga untuk menyebut permadani, di mana permadani Persia diperkenalkan setelah dibukanya jalur perdangangan dengan Eropa barat pada abad ke-17. Dalam sejarahnya karpet atau permadani dipakai juga untuk menyebut penutup meja maupun dinding, karena karpet tidak lazim dipakai untuk menutupi lantai di Eropa hingga abad ke-18.
Ketika karpet digunakan sebagai sajadah sholat, maka fungsi karpet yang biasanya hanya bersentuhan dengan kaki, berubah menjadi juga bersentuhan dengan muka/wajah seseorang.  Disinilah letak permasalahannya. Penggunaan karpet sebagai sajadah/alas sholat di banyak masjid sudah demikian merata sampai pelosok, menggantikan tikar pandan maupun tikar plastik.
Sudah menjadi ketentuan bahwa sebelum sholat, maka setiap muslim harus suci dari hadats, yang diwujudkan dengan air, sehingga setiap masjid/mushola juga menyediakan pancuran/kran untuk berwudhu.  Sering kali orang setelah selesai berwudlu langsung masuk masjid, dan banyak masjid yang tidak menyediakan keset, untuk pengering kaki.  Sehingga karpet di dalam masjid menjadi basah karena terkena air dari jamaah yang selesai berwudlu.
Karpet adalah salah satu benda yang mudah sekali menjadi pengumpul debu, karena letaknya di bawah, juga sering kali diinjak kaki yang kurang bersih.  Debu yang terkumpul akan berakibat tumbuhnya suburnya sejenis tungau yang yang sangat kecil.  Tungau debu karpet (TDK) merupakan binatang sejenis kutu yang ukurannya sangat kecil, yakni 250-300 mikro sehingga baru terlihat di bawah mikroskop dengan pembesaran minimal 20x.
Binatang super mini ini tak dapat dilihat dengan mata biasa, melainkan harus menggunakan mikroskop. Ukurannya sangat kecil, namun dapat menyebabkan banyak penyakit.  Bila dilihat dari sisi fisiknya, bentuk binatang ini lonjong dengan jumlah kaki 8 buah. Binatang mikrospis itu diembel-embeli kata “debu” di belakang namanya karena hidupnya dari debu. Debu sebenarnya tumpukan dari bermacam-macam partikel yang salah satunya adalah sel kulit mati. Sesuai dengan nama latinnya, Dermatophagiodes (dermato = kulit manusia, phagoid = makanan), sumber makanan TDK adalah serpihan kulit manusia. Hal tersebut terkait langsung dengan habitat tempat TDK berkembang biak.  Untuk di masjid, telapak kaki paling banyak bersentuhan dengan karpet, sehingga sangat dimungkinkan serpihan kulit kaki akan menjadi sumber makanan bagi TDK. Demikian  pula kelembaban adalah salah satu keadaan yang menyebabkan tumbuh suburnya TDK, apalagi masjid/mushola dengan ventilasi dan kurangnya sinar matahari yang masuk tentu menyebabkan tingginya angka kelembaban. Karena ukurannya yang sangat kecil, maka TDK sangat ringan sehingga mudah sekali diterbangkan oleh angin dan terhirup masuk ke dalam saluran nafas, apalagi di masjid/mushola, maka posisi sujud akan sangat dimungkinkan orang menghirup TDK dan tentu saja apabila TDK masuk ke dalam saluran pernsafasan, akan menimbulkan efek alergi yang lebih berbahaya, terutama bagi mereka yang memang dalam kondisi kurang sehat.
Melihat persoalan di atas, perlu bagi setiap takmir (pengelola masjid) memperhatikan kebersihan dan perawatan karpet, agar karpet yang mestinya menjadi tempat yang nyaman, tidak berubah menjadi sumber penyakit.  Oleh karena itu secara teratur dan berkala karpet harus disedot debunya denga menggunakan vaccum cleaner.  Jadi sudah menjadi kebutuhan, apabila masjid/mushola menggunakan karpet maka perlu punya alat penyedot debu atau menjemur karpet diluar sambil dibersihkan debunya dengan sapu lidi atau mencuci dengan air-deterjen, meski berakibat pudarnya warna.
Janganlah sampai penggunaan karpet di masjid /musholla justru menimbulkan citra yang kurang bagus, karena kurangnya kesadaran jamaah/takmir untuk menjaga kebersihan, padahal “kebersihan adalah sebagian dari iman”

Rabu, 01 Februari 2012

Amal Intiqad Muhammadiyah



Oleh: Drs. H. Syamsul Hidayat, M.Ag.

Salah satu agenda besar Muhammadiyah pada masa kepemimpinan KH. Mas mansur (1936-1942), yang dikenal dengan “Langkah Dua Belas Muhammadiyah” yang dicanangkan tahun 1938-1940 adalah “Menuntut Amalan Intiqad”. Ini merupakan langkah keempat dari dua belas langkah yang digerakkan.KH. Mas Mansur mengawali penjelasan tentang langkah keempat ini dengan sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr, Al-Bazzar, dan Baihaqi dari Anas, yang menyatakan bahwa Rasulullah dalam sebuah khutbahnya bersabda :
“Sungguh beruntung bagi orang yang selalu disibukkan untuk menyelediki aib dirinya sendiri, sehingga tidak sempat untuk menyelidiki aib orang lain”. (Ibn Abdil Barr, Al-Bazzar, Baihaqi, hadits haan karena isnadnya tidak terlalu kuat. Syekh Albani menyatakan sanadnya dha’if, tetapi maknanya benar).

Intiqad dari kata “naqd”, artinya kritik, koreksi dan meneliti. Intiqad oleh Mas Mansur dimaknai dengan senantiasa melakukan perbaikan diri. Ini semakna dengan istilah yang berkembang di tengah masyarakat, yaitu istilah muhasabah al-nafs (interopeksi diri atau self correction atau zelf corrective). Tentang muhasabah ini Amirul Mukminin Umar ibn Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan :

“Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab, dan timbang-timbanglah amalanmu sebelum engkau ditimbang. Sesungguhnya hisab atas diri sendiri itu adalah pertobatan dari segala kemaksiatan sebelum dating kematian dengan taubat nasuha” (Ihya Ulumuddin).

Dalam konteks perjuangan dan dakwah, KH. Mas Mansur menegaskan, bahwa segala usaha dan pekerjaan kita disamping diperbesar, dikembangkan, tetapi jangan lupa untuk selalu diperbaiki, setelah dilakukan evaluasi secara menyeluruh, teliti dan cermat. Kesadaran untuk selalu meneliti dan merenungkan apa yang telah dikerjakan demi kebaikan di masa mendatang juga diisyaratkan oleh firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr:18)

Intiqad atau koreksi diri harus dilakukan di atas landasan iman dan taqwa kepada Allah dan ditujukan untuk menambah ketaqwaan kepada Allah. Hasil intiqad, penyelidikan dan perbaikan ini dalam gerakan Muhammadiyah, harus dimusyawarahkan dengan dasar dan tujuan untuk mendatangkan maslahat dan manfaat dan menjauhkan madharat (jalbul mashalih wa dar’ul mafasid). Dan dasar yang kedua, yakni menjauhkan madharat (dar’ul mafasid) harus didahulukan dari pada yang pertama (jalbul mashalih). Demikian jelas KH. Mas Mansur.

Intiqad adalah amal yang dapat mendatangkan kebaikan dan kesempurnaan, bahkan ia merupakan suatu syarat yang pokok dalam usaha menuju perbaikan dan kesempurnaan. Dengan intiqad, baik secara pribadi maupun jamaah, kita akan dapat mengetahui segala apa yang ada pada kita, yang baik dan yang buruk. Dengan demikian akhirnya kita dapat manambah apa-apa yang telah baik dan dapat merubah segala yang tidak atau kurang baik.

Pekerjaan intiqad itu suatu amal yang terpuji dan diperintahkan agama Islam. Oleh sebab itu amal intiqad harus menjadi langkah Muhammdiyah. Amal intiqad Muhammadiyah ini, oleh KH. Mas Mansur dibagi dalam tiga langkah, yaitu (1) intiqad kepada diri sendiri, (2) intiqad kepad teman sejawat dan sesama muslim , dan (3) intiqad kepada lembaga-lembaga (badan), seperti persyarikatan, majelis, biro dan sebagainya.

Tiga macam langkah intiqad itu memiliki jalan dan cara sendiri-sendiri. Cara intiqad kepada diri sendiri tidak boleh diterapkan begitu saja untuk intiqad kepada teman sejawat ataupun untuk intiqad kepada lembaga-lembaga yang lebih luas, demikian pula sebaliknya.

Selasa, 24 Januari 2012

Sluku-sluku Bathok

Sluku-sluku bathok.
Bathoke ela-elo.
Si Rama menyang Solo.
Oleh-olehe payung mutho.
Mak jenthit lolo lo bah.
Yen mati ora obah
Yen obah medeni bocah,
Yen urip golekko dhuwit

Sluku-sluku bathok,
Hidup – tidak boleh dihabiskan hanya untuk bekerja. Waktunya istirahat ya istirahat, untuk menjaga jiwa dan raga agar selalu dalam kondisi seimbang.Bathok (kepala) kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuannya. Kalo diforsir terus menerus bisa aus, stress, hang, macet daya pikirnya.
Bathoke ela-elo ,
dengan cara berdzikir (ela-elo=Laa Ilaaha Ilallah), mengingat Allah akan mengendurkan syaraf neuron di otak“ Ingatlah, hanya mengingat Allah hati menjadi tentram”(ar-Ra’ad/13:28) “ Sebab itu ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (al-Baqarah/2:152).Lalu..
Si Rama menyang Solo,
siram (mandilah, bersuci) menyang(menuju) Solo (Sholat). Lalu bersuci dan dirikanlah sholat. Saya ingat ada kutipan berbunyi: Jadikanlah sholat itu istirahatmu. Lalu apa Manfaat Sholat ?Manfaat shalat apabila kita kaji lebih dalam, sangat luar biasa dancanggih dibandingkan dengan yoga. Sayang sekali jarang sebagian manusia mencari apa keistimewaan sholat, apalagi yangmempelajari manajemen yang terkandung dalam bacaan shalat. Coba kita pikirkan, kenapa manajemen yang terkandung dalam shalat sangatlah canggih?Doa Iftitah, yang kita ucapkan lima kali sehari, sebetulnya sama dengan dengan mission statement kalau kita belajar manajemen strategi. Misi hidup yang manalagi yang lebih canggih dibandingkan denganhanya mendapatkan keridhaan Allah, tidak musyrik dan menjalankan perbuatan islami?Al Fatihah, yang diucapkan minimal 17 kali sehari, merupa-kan objective statement. Tujuan hidup yang mana lagi yang lebih canggih dibandingkan dengan hidup di jalan yang lurus, yaitu jalan kebaikan seperti yang diperoleh para nabi dan rasul? Ini baru sebagian kecil dari manfaat sholat, Masih teramat banyak untuk disebutkan.
Oleh-olehe payung mutho,
yang sholat akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Allah, Tuhan kita. Kalo Allah sudah melindungi, tak ada satupun di dunia ini yang kuasa menyakiti kita, tak satupun.Karena kekuasaan Allah mutlak,(al- Baqarah/2:255) / ayat kursi . Di dalam Ayat lain disebutkan,“ Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal” (al-maa’idah/5:11). Dan masih banyak keterangan yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Mak jenthit lolo lo bah,
kematian itu datangnya tiba-tiba,tak ada yang tahu. Tak bisa dimajukan atau dimundurkan walau sesaat,“ Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenarnya. Demikianlah yang kamu tidak dapat melarikan diri daripadanya”(Qaaf/50:19).[/color] Sehingga saat kita hidup, kita harus senantiasa bersiap dan waspada. Selalu mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal untuk dibawa mati.Yen obah medeni bocah.
Saat kematian datang, semua sudah terlambat. Kesempatan beramal hilang. Banyak ingin minta dihidupkan tapi Allah tidak mengijinkan. Jika mayat hidup lagi maka bentuknya menakutkan dan mudharat-nya akan lebih besar. Bahkan dengan istilah Reinkarnasi pun tidak akan mungkin terjadi.“ Hingga apabila kematian datang kepada salah satu diantara meraka (orang kafir), dia berkata,” Ya Tuhanku kembalikanlah aku”(al-Mu’minun/23:99). Permohonan dilanjutkan,“ supaya aku dapat beramal saleh terhadap sesuatu yang kutinggalkan sebelumnya” (al-Mu’minun/23:100)
Tetapi Allah memberikan jawaban tegas,
“ sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja “ (al-Mu’minun/23:*).
.
Yen urip golekko dhuwit.
Kesempatan terbaik untuk berkarya dan beramal adalah saat ini. Saat masih hidup. Pengin kaya, pengin membantu orang lain, pengin membahagiakan orangtua: sekaranglah saatnya. Ketika uang dan harta benda masih bisa menyumbang bagi tegaknya agama Allah. Sebelum terlambat, sebelum segala pintu kesempatan tertutup. Salah satu Hadits menyebutkan,
“ Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan kamuakan hidup selamanya, dan beribadahlah kamu seakan-akan angkau akan mati besok”.
dikutip dari http://johnarief.wap.sh/artikel/sluku_bathok

Senin, 19 Desember 2011

Khutbah Nikah untuk Anakku Wita - Hafiz

Khutbah Nikah untuk
anakku Widitra Maulida dan Wanda Hafiz Norzaman
sebagai bentuk rasa cinta dan pertanggunganjawaban
atas amanah Mu


Segala puji bagi Allah, yang terpuji karena maha pemberi nikmat
yang disembah sebab kekuasaan Nya, yang ditaati sebab kekuatan Nya
yang menjadikan ngeri orang sebab siksa Nya yang langsung berlaku perkara Nya.
Yang menciptakan segala ciptaan dengan kekuasaan Nya, serta menentukan ciri dan jenis ciptaan dengan aturan-aturan Nya.
Yang memuliakan mereka dengan agama Nya dan menjunjung mereka dengan nabi Nya Muhammad SAW.



selengkapnya.......
Khutbah Nikah Wita - Hafiz

Rabu, 09 November 2011

“Islam, Ajaran Qurban dan Pemberantasan Korupsi”


“Islam, Ajaran Qurban dan Pemberantasan Korupsi”
M. Busyro Muqoddas 
( KetuaKPK / Pengajar Fakultas Hukum UII) 


Khutbah Idul Adha 1432 H
di Alun-alun Utara Yogyakara


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله  نحمده  ونستعينه  ونستغفره  ونعوذ  بالله  من  شرور  أنفسنا  ومن  سيئات  أعمالنا, من  يهد الله  فلا  مضل له  ومن يضلل فلا  هادى  له. أشهد أن لا إله  إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله  أرسله  بالهقّ  بشير ا  ونذيرا. أللهمّ صلّ  وسلّم  وبارك  على  محمّد  وعلى  آله  وأصحابه  ومن  تبعهم  بإحسان  إلى يوم القيامة, 
أما بعد, أوصيكم عباد الله  ونفسى  بتقوى الله  فقد  فاز المتّقون. قال الله تعالى

. !$¯RÎ) š»oYøsÜôãr& trOöqs3ø9$# ÇÊÈ   Èe@|Ásù y7În/tÏ9 öptùU$#ur ÇËÈ   žcÎ) št¥ÏR$x© uqèd çŽtIö/F{$# ÇÌÈ
  
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus


الله أكبر  الله أكبر لا إله إلاّ الله والله أكبر  الله أكبر ولله الحمد.

Saudaraku Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
   Marilah kita senantiasa mengulang-ulang puja dan puji syukur kita kehadirat Allah swt  atas sejumlah besar nikmatNya yang selalu dianugerahkan kepada kita selama ini. Di antara kenikmatan itu adalah kita beriman dan beragama di jalan yang benar, jalan yang diridhoiNya, yaitu Islam. Kita masih diberi nikmat kesehatan, kemampuan menegakkan sholat, bersilaturahmi, mendatangi pengajian-pengajian, menolong sesama, peduli terhadap persoalan kemanusiaan dan kebangsaan dst.

Selasa, 09 Agustus 2011

Penyebaran Kisah dan Fadhilah yang tidak jelas sumbernya


Adalah sangat menggembirakan, dalam kemajuan komunikasi sekarang ini, baik melalui internet, BBM, jejaring sosial ataupun peralatan lainnya, maka semangat
وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر
saling menasihati dengan kebenaran dan menasihati dengan kesabaran, menjadi sangat marak. hal tersebut sangat perlu disyukuri. Demikian pula menjadi sangat mudah (dalam batasan tertentu) bagi kita untuk mencari referensi ataupun ruju'an pelajaran agama.
Berbagai kisah teladan Rasulullah SAW dan para sahabat, menjadi hal yang sering disebarkan antar teman, maka cerita yang sebelumnya tidak pernah didengar, akan menjadi mudah tersampaikan kepada kita.
Tetapi sayangnya kemudian, banyak kisah, cerita "israiliyat" atau kisah yang tidak jelas sumbernya, meskipun menyebut sebagai kisah nabi dan para sahabat banyak banyak beredar. Inilah yang nampaknya perlu pencermatan dari kita, meski tidak jarang orang berkomentar "ini kisah baik jadi tidak mengapa kita sebarkan" kadang muncul. Perlulah diingat bahwa mencatut "nama Rasulullah Muhammad SAW" jelas tidak diperkenankan.
Demikian pula ada tulisan tentang "Fadhilah" ayat tertentu ataupun "Fadhilah Lelaki", "Fadhilah Perempuan" yang tidak jelas sumbernya, banyak sekali beredar.
Serta yang lebih "parah" lagi kadang-kadang ada iseng "memplesetkan" kisah tertentu, ketika ditanya dengan lantang dan "cengengesan" dia menjawab "ini hadits riwayat saya". Ada pula dalam status di FB dia menulis sebuah pernyataan, kemudian di akhirnya dia menulis HR. Fulan dengan menyebut namanya.
Oleh karena itu perlulah kita saling mengingatkan agar tidak terjadi "pemalsuan" kisah ataupun "penyisipan" yang tidak benar.
Wallahu a'lamu bishshowwab....

Senin, 01 Agustus 2011

PENGARUH PENGEMBAN SULINGAN TERHADAP INTENSITAS Gd DAN Dy PADA ANALISIS PENGOTOR U3O8

PENGARUH PENGEMBAN SULINGAN TERHADAP INTENSITAS
Gd DAN Dy PADA ANALISIS PENGOTOR U3O8

Aryadi, Farida Ernawati
PTAPB-BATAN, Yogyakarta

ABSTRAK
PENGARUH PENGEMBAN SULINGAN TERHADAP INTENSITAS Gd dan Dy. PADA ANALISIS PENGOTOR U3O8. Penentuan unsur logam tanah jarang Gd danDy dengan spektrografi emisi diperlukan metode khusus. Penambahan pengemban sulingan (AgCl, LiF dan Ga2O3 = 95 : 4 : 1) ke dalam standar dan sampel  U3O8 bertujuan untuk membantu penguapan unsur teranalisis sehingga mempercepat pembentukan spektrum unsur pada saat proses eksitasi berlangsung. Dengan memvariasi prosentase pengemban sulingan didapatkan spektrum unsur yang optimum. Penambahan pengemban sulingan dengan komposisi di atas sebanyak 6 % menghasilkan intensitas spektrum unsur Gd dan Dy terbaik sehingga dapat dijadikan sebagai dasar untuk analisis Gd dan Dy di dalam U3O8. Dari analisis yang telah dilakukan dengan penambahan pengemban sulingan sebanyak 6 % menggunakan metode spektrografi emisi dapat diketahui bahwa kandungan Gd dan Dy di dalam U3O8 masing-masing adalah 23,361 ppm dan 23,361 ppm.
makalah selengkapnya.....

Kamis, 07 Juli 2011

TUNTUNAN IBADAH PADA BULAN RAMADHAN

TUNTUNAN IBADAH PADA BULAN RAMADHAN

Disusun Oleh:
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah

A.    Persiapan
1.                 Dituntunkan agar setiap Muslim dan Muslimah mempersiapkan diri pribadi baik secara lahir maupun batin, dan memperbanyak melakukan puasa sunat di bulan Sya‘ban, berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ ... مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ. [متفق عليه].
Artinya: “Dari ‘Aisyah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: ... Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan. Juga saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya‘ban. [Muttafaq ‘Alaih].
2.             Melakukan pengkondisian Ramadhan pada bulan Sya‘ban di lingkungan masyarakat, rumah dan masjid-masjid dengan memperbanyak informasi dan kajian tentang Tuntunan Ibadah Ramadhan.
3.             Mempersiapkan sarana dan prasarana kegiatan di bulan Ramadhan, seperti sound system yang memadai, mempersiapkan dan membersihkan tempat wudhu, air wudhu, kotak-kotak infaq, peralatan ta‘jil, dan lain-lain.
4.             Kebersihan, baik di dalam masjid maupun di lingkungan sekitarnya.
5.              Pengaturan shaf dan keamanan
6.             Jadwal mu'adzin, imam, penceramah dan penjemputannya.
7.              Mempersiapkan tempat shalat ‘Idul Fitri, Imam/Khatib dan penjemputannya.
8.              Membentuk ‘Amil Zakat, untuk memungut dan membagikannya serta mempersiapkan peralatannya.

B.     Tuntunan Shiyam
1.                 Pengertian Shiyam (Puasa)
a.               Shiyam menurut bahasa: menahan diri dari sesuatu.
b.              Shiyam menurut istilah: menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual suami isteri dan segala yang membatalkan sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah.
Dasar keharusan niat berpuasa karena Allah:
1)               Firman Allah SWT:
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ ... [البينة (98): 5].
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus …” [QS. Al-Bayyinah (98): 5].
2)           Hadits Nabi Muhammad saw:
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اَ ْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى... [أخرجه البخاري، كتاب الإيمان].
Artinya: “Dari Umar r.a. (diriwayatkan) bahwa Rasulullah saw bersabda: Semua perbuatan ibadah harus dengan niat, dan setiap orang tergantung kepada niatnya …” [Ditakhrijkan oleh Al-Bukhariy, Kitab al-Iman].
3)           Hadits Nabi Muhammad saw:
عَنْ حَفْصَة أُمِّ اْلمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ. [رواه الخمسة، الصنعاني، 2، 153].
Artinya: “Dari Hafshah Ummul Mu'minin r.a. (diriwayatkan bahwa) Nabi saw bersabda: Barangsiapa tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” [Ditakhrijkan oleh Al-Khamsah, lihat Ash-Shan‘aniy, II, 153].
2.             Jumlah Hari Shiyam (Puasa)
a.               Shiyam dimulai pada tanggal 1 bulan Ramadhan dan diakhiri pada tanggal terakhir bulan Ramadhan (29 hari atau 30 hari, tergantung pada kondisi bulan tersebut). Untuk itu, maka harus mengetahui awal bulan Ramadhan.